Kamis, 24 Januari 2013

TULISAN II

Sumber Daya Alam Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Saat ini kita sedang menyaksikan suatu transisi cakrawala yang tak terbatas pencarian keseimbangan dalam ruang yang sempit atau bahkan yang terbatas. Pada intinya dunia berada pada masa transisi dimana bentuk sosial, tata cara yang berlangsung serta nilai-nilai akan berlalu sebelum bentuk-bentuk dan metodologi baru punya waktu yang cukup untuk menggantikannya (Seojani, 2000:28-29). Dalam hal ini terjadi interaksi yang rumit, dimana jalinan interaksi lokal tidak lagi dapat dibedakan dengan jalinan interaksi dalam skala global. Hal tersebut berdampak pada munculnya pola konsumsi dan komunisme global, menurunnya kedaulatan Negara suatu Bangsa, tumbuhnya sistim militer global (pasukan multi Nasional), pengakuan tentang terjadinya krisis lingkungan dunia berkembangnya masalah-masalah kesehatan berskala Dunia (seperti penyakit AIDS), munculnya lembaga –lembaga politik Dunia (seperti PBB), munculnya gerakan-gerakan politik global, perluasan konsep hak-hak asasi  manusia, dan interaksi rumit antar berbagai agama di dunia.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi kajian dalam rumusan masalah adalah sebagai berikut :
“ Bagaimana potensi sumber daya alam(SDA) dan sumber daya manusia (SDM) dalam mengembangkan sumber daya pendidikan Indonesia”




BAB II
PEMBAHASAN

A.    POTENSI SUMBER DAYA
1.      Potensi Sumber Daya Alam (SDA)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terletak diantara 94005 BT -141001’DT dan LU-11005’LS. Terdiri dari 1.7850 pulau, 7. 667 pulau sudah memiliki nama dan 931 pulau berpenghuni penduduk.  luas lautan yang dimiliki sekitar 5,8 juta km2 atau 70%dari seluruh wilayah terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teroterial, 2,8 juta km2 perairan nusantara, dan 2,7 juta perairan Zona Ekonomi Eksklusif. Wilayah teroterial ke Selatan serta membentuk garis pantai sepanjang 5.110 km dari Barat ke Timur dan 1.888 km dari Utara ke Selatan serta membentuk garis pantai sepanjang  81. 000 km. luas daratan Indonesia kurang lebih 1.919.434 km2 mencakup 27 propinsi.
Secara filosofis indonesia berada di wilayah pertemuan lempeng samudra Indo-Australia, Asia- Pasifik dan daratan Asia. Gerakan antara lempeng tektonik tersebut menimbulkan gejala alam berupa gemp[a, letusan gunung api, dan tsunami yang sering melanda wilayah perairan indonesia. Selain itu fenomena tersebut memberikan keindahan tersendiri bagi topografi wilayah yang merupakan pemandangan khas  yang sangat menawan.
Hutan tropis indonesia sekurang-kurangnya memilik spesies hewan sebanyak satu juta atau sekitar 13-16%spesies hewan di dunia. Di hutan hujan daratan rendah terdapat 30.000 spesies kumbang, 666 spesial capung dan 122 spesies kupu-kupu. Dari Lima Badak yang tersisa di dunia dua spesies diantaranya berada di Indonesia. Terdapat satu spesies gajah Dunia Dua spesies gajah di Dunia dan sekitar Empat spesies hewan ternak liar Asia Tenggara Satu diantaranya terdapat di Indonesia. Aneka burung di Indonesia antara lain terdapat 13 rangkong patut, diantaranya rangkong kerdil Sulawesi, rangkong Sumba dan rangkong badak. Endemisme burung di Indonesia sangat tinggi. Selain itu terdapat 75 spesies burung kakatua, satu diantaranya adalah kakatua raja yang termahal di Dunia. Komodo, biawak besar dan tertua di Dunia terdapat di Pulau Komodo. Sekurang –kurangnya terdapat 500 spesies ikan tawar di antaranya ikan arwana, lumba-lumba air tawar atau lebih dikenal dengan nama pesut terdapat di sungai Mahakam Kalimantan Timur.
2.      Potensi Sumber Daya Manusia (SDM)
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta jiwa pada tahun 2000 dengan laju pertumbuhan sebesar 1,7%. Meskipun kepadatan penduduk di Indonesia termasuk jarang yaitu 102 orang per-km2, namun penyebarannya tidak merata antar satu pulau dengan pulau lainnya juga diantara propinsi yang satu dengan propinsi yang lainnya. Sebanyak 58,87% penduduk Indonesia mendiami pulau Jawa yang memiliki luas hanya 7% dari luas wilayah. Dengan jumlah penduduk 114,987 juta maka kepadatan pulau Jawa mencapai 870 orang per-km2. Sementara itu Irian Jaya dengan luas wilayah 22% memiliki kepadatan penduduk 5 orang per-km2..
Angka harapan hidup pada waktu lahir adalah 61,5 tahun, angka kematian sebesar 68 per seribu penduduk. Aksebilitas penduduk terhadap air bersih sebesar 42%. Pelayanan kesehatan 43% dan sanitasi 44% (HDR, 1993). Angka melek huruf 60,7% sementara penduduk usia di atas 5 tahun yang tidak bersekolah sebesar 16,46%, masih sekolah 26,85% dan tidak sekolah lagi 56,69% (BPS, 1994). Mata pencarian penduduk Indonesia pada umumnya petani yaitu sekitar 54% mata pencarian lainnya adalah jasa 38% dan industri 8%. Pendapatan perkapital penduduk sebesar US$ 560 (HDR, 1993).
3.      Pendidikan Lingkungan Pada Jenjang Pendidikan Dasar
Sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menyebar dan mengatur permukaan bumi sesuai dengan keinginannya, manusia memiliki kecenderungan untuk mendominasi bumi baik di lihat dari sudut tata ruang, fungsional maupun struktural. Kerusakan alam yang terjadi pada dasarnya lebih dititiberatkan pada kemampuan manusia untuk melihat dengan jangkauan jauh melampaui batas kepentingan sendiri di samping kemampuan dalam melihat kenyataan yang sebenarnya dalam kehidupan (seojani,1992:19). Kerusakan lingkungan merupakan manifestasi pengembangan dari permasalahan  sosial dan lingkungan yang saling terkait. Pengertian yang mendalam mengenai lingkungan alam merupakan isu sosial dan ekologis, sehingga krisis lingkungan dapat dikatakan sebagai  hasil  berbagai keprihatinan global (Vans Resburg, 1994:1).
Perilaku manusia dalam interaksi dengan lingkungan menjadi perhatian serius, apabila perilaku seseorang ditentukan oleh setting dimana ia tinggal, maka perilaku tersebut termasuk ke dalam behavarior all setting (Fishben dan Ajzen, 1975:351). Pola tersebut dapat membedakan perilaku seseorang dengan orang lain terhadap obyek pada tempat dan waktu tertentu (Krech &Ballachey, 1988:15). Dengan demikian perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan merupakan fokus perhatian yang serius.
Atas dasar pemikiran di atas , maka pendidikan dalam hal ini seyogianya berkaitan dengan  :
1.      Pemahaman mengenai budaya silang yang berarti mengakui keberadaan lebih dari sudut pandang dan belajar melihat dunia dari perspektif yang berbeda.
2.      Pembelajaran holistik yang membawa berbagai disiplin ke suatu isu lingkungan  meliputi berbagai pendekatan dalam pembelajaran.
3.      Pelibatan potensi masyarakat yang dapat menjalin hubungan yang akrab dan utama antara lingkungan masyarakat dengan sekolah.
4.      Pemahaman mengenai keterkaitan antara konsep-=konsep dasar lingkungan  hidup dengan permasalahan di sekitarnya. Konsep-konsep dasar lingkungan hidup tersebut adalah :
-          Lingkungan bumi yang terdiri dari komponen fisik
-          Materi siklus berkesinambungan dalam tataran ekosistem.
-          Daya dukung lingkungan hidup
-          Keunikan kapasitas intelektual manusia yang menghasilkan moral dan perilaku lingkungan yang bertanggung jawab (Swab dan Stapp, 1971)
Oleh karena itu, bentuk pendidikan yang terlalu berorientasi pada penguasaan materi pelajaran, nampaknya kurang mampu mengangkat kualitas pendidikan kita baik dilihat dari hasil maupun proses belajar. Dilihat dari hasil belajar misalnya, ternyata tingkat penguasaan materi pelajaran kita sangat memprihatinkan baik dalam skala nasional, regional apalagi skala internasional. Sementara itu dilihat dari proses belajar ternyata anak didik kita masih jauh ketinggalan oleh bangsa-bangsa lain yang dapat di lihat dari kemampuan dan keterampilan mereka dalam memecahkan masalah , oleh karena itulah dalam kerangka reformasi pendidikan perubahan kurikulum dari yang bersifat subjectoriented menjadi compency oriented dianggap strategis.












BAB III
PENUTUP
a.      Kesimpulan
Pendidikan berbasis pada lingkungan hidup merupakan hal strategis yang seyogianya dilaksanakan terutama pada jenjang pendidikan dasar. Bagaimanapun besarnya potensi sumber daya alam dalam menunjang kehidupan manusia, nampaknya tidak akan dapat termanfaatkan dengan baik dan optimal secara berkelanjutan, jika kita tidak memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan  sumberdaya itu sendiri, untuk itu komitmen dan tanggung jawab tersebut harus dibentuk sejak dini. Pendidikan di lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar difokuskan bagaimana konsep-konsep dasar dan permasalahan lingkungan hidup dapat diadopsi oleh siswa pada jenjang pendidikan dasar. Hal ini disebabkan  pertama pendidikan merupakan salah satu proses untuk dapat menjadi diri seseorang lebih dewasa. Kedua proses pendewasaan berkaitan dengan perkembangan intelektual seseorang dan kesiapan yang dimiliki untuk perkembangan selanjutnya. Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret dimana berpikir logis yang dimiliki didasarkan pada manipulasi fisik dan obyek sehingga penanaman konsep lingkungan hidup pada jenjang ini merupakan hal strategis. Ketiga, proses membangun struktur kognitif dapat terwujud melalui adanya informasi, transformasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dengan lingkungan hidup akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan tersebut. Dengan demikian melalui pendidikan lingkungan hidup dikembangkan ini diharapkan dapat terbentuk generasi yang memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam, sehingga kekayaan yang dimiliki dapat dinikmati oleh generasi mas kini juga masa yang akan datang meskipun generasi tersebut belum lahir.


b.      Saran
Penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik bentuk penyusunan, kata kerja dan kalimat yang digunakan dalam isi makalah ini, oleh karena itu adanya kritikan dan masukan dari berbagai pihak saya menerima dengan terbuka.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan rekan-rekan yang lainnya karena penyusunan makalah ini menyangkut persoalan pendidikan yang kita pelajari dan dikembangkan melalui pengalaman yang ada.









DAFTAR PUSTAKA :
-Baharudin, Azizan. Science, Values and The Environment: On The Need for A Coherent and Holistic Worldview. Dalam Azizan HJ Bharudin (Ed)Eenvironment and Development : Ethical and Education Considerations. Kuala Lumpur :Institut Kajina Dasar, 1985
-Blaikie, N W H “Education and Enviromentalism: Ecological World View and Enviromentally Responsibeble Behavoiur” Australian Journal of Enviomental Education 9. Supplement Agustus. P. 14, 1993
-Bloom, Benyamin S. Taxonomu of Educational Objective: Book I Cognitive Domain N. Y Longman Inc,. 1956.
-Chiras, Daniel D. Enviromental Science: Action for a Ssustainable future. California: The Benjamin/Cummings Pub. Co. Inc,. 1991.
-Fishbein, Martin & Ajzen, Icek. Belief Attitude, Intenton, and Behaviour: An Introduction to Theory and Research M A Addison-Wesley, 1975
-Gage, N L & Berliner, D C Educational Psychology Dallas:Houghton Miffin Co, 1984

Tidak ada komentar:

Posting Komentar